1. Menulis Buku
Harian atau Pengalaman Pribadi dengan Memperhatikan Cara Pengungkapan Dengan
Bahasa yang Baik dan Benar
Ketika kamu
menulis buku harian, kamu dapat menggunakan kalimat yang ekspresif. Kalimat
ekspresif adalah kalimat yang menyatakan pikiran dan perasaan secara mendalam.
Dalam kalimat itu, biasanya digunakan idiom dan pilihan kata tertentu yang
menunjukkan arti ‘sangat’. Idiom merupakan gabungan kata yang menyatakan satu
ungkapan makna, misalnya, gabungan berat
hati dalam kalimat “mereka melakukan kegiatan itu dengan berat hati”. Berat hati dalam kalimat itu bermakna ‘enggan dan terpaksa sekali’.
Pilihan kata tertentu juga dapat menunjukkan arti ‘sangat’ atau bagian kalimat
yang lain, misalnya, wah, liar biasa,
aduh atau hebat. a. Menjelaskan
Makna Idiom Dalam Kalimat Ekspresif
Kalimat-kalimat berikut menunjukkan kalimat
ekspresif. Coba kamu jelaskan makna idiom dalam kalimat-kalimat berikut! Jika
kamu merasa kesulitan, gunaka Kamus Besar
Bahasa Indinesia atau diskusikan bersama
temanmu!
1.
Hari ini, aku
pergi sekolah. Di perjalanan, aku melihat rumah luluh lantak oleh badai kemarin. (Luluh lantak dalam kalimat itu bermakna ‘hancur sama sekali’).
2.
Banjir bandang meratakan kawasan wisata yang indah itu. (Banjir bandang dalam kalimat itu
bermakna ‘banjir besar yang datang dengan tiba-tiba dan mengalir deras
menghanyutkan benda-benda besar (kayu, dan sebagainya) atau air bah’).
3.
Hampir
seluruh Desa Bukit Lawang, Kecamatan Bohorok, terendam air bah. (Air bah dalam
kalimat tersebut bermakna ‘banjir.).
4.
Jangan hanya berpangku tangan, bantulah korban bencana banjir. (Berpangku tangan dalam kalimat tersebut
bermakna ‘tidak berbuat (bekerja) apa-apa’).
5.
Banyak
wisatawan mancanegara yang jatuh hati
setelah melihat Taman Nasional Gunung Leuser.(Jatuh hati dalam kalimat itu bermakna ‘menaruh cinta (kasih) kepada
Taman Nasional Gunung Leuser atau menaruh belas kasihan kepada Taman Nasional
Gunung Leuse’).
6.
Kami
menyaksikan dengan mata kepala sendiri
gelombang air bercampur lumpur. (Mata
kepala sendiri dalam kalimat itu bermakna ‘melihat dengan matanya sendiri
tanpa mendengar cerita dari orang lain’).
Aspek
Kebahasaan
Menguasai dan Menerapkan Kata yang Mengalami
Pergeseran Makna
Contoh : “Saya sependapat dengan saudara
Dira, permasalahan ketertiban lingkungan memang tanggung jawab kita bersama.”
Kata
‘Saudara’ pada contoh di atas mengalami pergeseran makna. Dulu kata saudara
hanya berarti ‘orang yang seibu seayah atau memiliki hubungan darah’, tetapi
sekarang saudara juga berarti siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus
sosial yang sama.
Faktor yang
mempengaruhi pergeseran makna di antaranya adalah perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, perkembangan sosial budaya, perbedaan bidang pemakaian, adanya
asosiasi atau pertautan makna, pertukaran tanggapan indra, perbedaan tanggapan,
penyingkatan, proses gramatikal, dan adanya pengembangan istilah.
Jenis
pergeseran makna adalah sebagai berikut:
1.
Pergeseran
makna meluas, yaitu makna yang baru lebih luas daripada makna yang lama.
Contoh: kata ibu (dulu berarti ‘orangtua perempuan’ sekarang untuk menyebut
semua perempuan yang kedudukannya lebih tinggi atau patut kita hormati).
2.
Pergeseran
makna menyempit, yaitu makna yang baru lebih sempit daripada makna yang lama.
Contoh: kata sarjana (dulu berarti setiap orang yang pandai, sekarang untuk
yang bergelar atau lulusan perguruan tinggi).
3.
Pergeseran
makna amelioratif, yaitu makna yang baru dianggap lebih halus daripada makna
yang lama. Contoh: kata pramuwisma (dianggap lebih halus daripada kata
pembantu).
4.
Pergeseran
makna peyoratif, yaitu makna yang baru dianggap lebih kasar daripada makna yang
lama. Contoh: kata bini (dianggap lebih kasar daripada kata istri)
5.
Pergeseran
makna sinestesia, yaitu perubahan atau pergeseran makna akibat penukaran indra.
Contoh: kata manis untuk indra pencecap bertukar dengan indra penglihatan,
yaitu pada kalimat “Gadis itu manis.”
6.
Pergeseran
makna karena asosiasi (pertautan makna), yaitu dipertautkan dengan hal-hal
lain. Contoh: kata amplop yang berarti alat untuk menyampul surat, bisa juga
untuk membungkus uang sogok.
1. Hal 36
materi yang berhubungan dengan semantik ialah yang berhubungan dengan penamaan
dan pendefenisian yang berupa mengetahui bagian-bagian yang berupa
identifikasi, klasifikasi/deskripsi, dan deskripsi bagian pada teks deskripsi "Tari
Saman".
. 2. Hal 51 materi
yang berhubungan dengan semantik ialah yang berhubungan dengan penamaan dan
pendefenisian yang berupa mengetahui bagian-bagian yang berupa identifikasi,
klasifikasi/deskripsi, dan deskripsi bagian pada teks deskripsi "Pantun
Indonesia".
3. Hal 95 materi
yang berhubungan dengan semantik yaitu pada penyusunan teks eksposisi
"Teknologi Tepat Guna" menggunakan alat kohesi. Kohesi adalah
keterpaduan yang dicapai melalui pemilihan kosakata. Kohesi leksikal dapat
berbentuk, antara lain dengan pengulangan, sinonim, hipononim, dan antonim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar